Duhai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkan hatiku atas agama-Mu... tetapkan hatiku untuk taat kepada-Mu...tetapkan hatiku atas imanku kepada-Mu... Wahai Tuhan kami, jangan gelincirkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk kepada kami dan berilah kami dari sisi-Mu rahmat. Sesungguhnya Engkaulahyang maha bijaksana.

Selasa, 15 Februari 2011

SEJARAH PERANG KHAIBAR DAN WADIL-QURA

Dulu Khaibar adalah sebuah kota besar yang memiliki benteng dan kebun-kebun sejauh enam puluh hingga delapan puluh mil dari Madinah, tepatnya ke arah utara. Kini Khaibar merupakan perkampungan yang cukup berbahaya.

Latar Belakang Peperangan

Setelah Nabi SAW merasa aman dari serangan salah satu dari tiga sayap pasukan musuh dan mendapatkanjaminan keamanan yang utuh setelah dikukuhkannya gencatan senjata, maka pandangan beliau terarah kedua sayap lainnya, yailu Yahudi dan beberapa kabilah Najd, agar stabilitas keamanan dan kesejahteraan benar-benar menjadi lengkap, sehingga ketentraman tercipta di seluruh wilayah_ lalu orang-orang Muslim dapat berkonsetrasi umuk menyebarkan risalah Allah.

Karena Khaibar mempakan kandang konspirasi dan pengkhianatan, pangkalan militer, sumber permusuhan dan pemicu peperangan, maka tidak mengherankan jika Khaibar menjadi sasaran pertama yang dilirik orang-orang Muslim.

Sekali pun memang demikian keadaan Khaibar, kita tidak boleh lupa bahwa penduduk Khaibar adalah orang-orang yang menghimpun pasukan untuk rnemerangi kaum Muslimin dan mendorong Bani Quraizhah untuk melanggar perjanjian dan berkhianat, menjalin kontak dengan orang-orang munafik yang merupakan duri dalam masyarakat Islam, berhubungan dengan penduduk Ghathafan dan orang-orang Arab Badui, yang merupakan sayap ketiga dari pasukan musuh. Di samping itu mereka sendiri juga mempersiapkan diri untuk berperang. Sepak terjang mereka ini membuat orang-orang Muslim selalu merasa terancam bahaya. Bahkan mereka pernah menyusun rencana umuk membunuh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Dihadapkan pada kenyataan ini, terpaksa orang-orang Muslim mengirim saman pasukan hingga beberapa kali dan menghabisi para tokoh pengkhianat, seperti Sallam bin Abul Huqaiq dan Usair bin Razzam. Sekalipun keharusan Orang-orang Muslim untuk menuntaskan masalah orang-orang Yahudi lebih besar, tetapi mereka menundanya. Sebab ada kekuatan yang lebih besar daripada orang-orang Yahudi itu, yaitu Quraisy yang secara terang-terangan menyerang kaum Muslim. Setelah serangan ini padam, maka perhatian bisa dipusatkan kepada para penjahat itu dan sudah tiba saatnya untuk membuat perhitungan dengan mereka.

Berangkat ke Khaibar

Sepulang dari Hudaibiyah, Rasulullah SAW berada di Madinah pada bulan Dzul Hijjah dan sebagian Muharram. Pada sisa bulan Muharram itu beliau berangkat ke Khaibar.

Menurut para mufasir, Khaibar rnerupakan janji yang pemah disampaikan Allah  dalam firman-Nya:

"Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil, Maka disegerakan-Nya harta rampasan ini untukmu. " (Al-Fath: 20)

Maksud janji ini adalah Perjanjian Hudaibiyah. Adapun harta rampasan itu adalah  Khaibar.


Jumlah Pasukan Islam
Karena orang munafik dan mereka yang hatinya lemah tidak mau bergabung dalam peristiwa Hudaibiyah, maka Allah menurunkan perintah kepada Nabinya tentang mereka :

" Orang-orang yang tertinggal itu akan berkata apabila kamu berangkat untuk mengambil barang rampasan, ‘Biarkanlah kami, niscaya kami mengikuti kamu'; mereka hendak merubah janji Allah. Katakanlah, sekali-kali tidak(boleh) mengikuti kami; demikian Allah telah menetapkan sebelumnya;  Mereka akan mengatakan, 'Sebenarnya kamu dengki kepada kami'. Bahkan mereka tidak mengerli melainkan sedikit sekali (Al-Fath: 15)

Ketika Rasulullah SAW hendak keluar ke Khaibar beliau mengumumkan bahwa yang boleh bergabung hanya orang orang yang suka berjihad. Sehingga yang bergabung bersama bel|au hanya orang orang yang pemberani sebanyak seribu empat ratus orang.

Yang g diangkat sebagai wakil belau di Madinah adalah Siba' bin Urfuthah Al-Ghifari. Tetapi menurut lbnu lshaq adalah Numailah bin Abdullah Al Laitsy.  Namun pendapat pertama lebih benarmenurut para peneliti.

 Pada saat ltulah Abu Hurairah datang ke Madinah untuk masuk Islam. Dia bertemu Siba' bin Urfuthah yang sedang shalat subuh. Seusai shalat Siba’ memberinya bekal perjalanan, lalu Abu Hurairah menemul Rasulullah SAW.

Beliau memberitahukan kelslamannya kepada para sahabat dan menyuruhnya bergabung bersama mereka.


Orang-orang Munafik Mengadakan Kontak dengan Yahudi


Orang-orang munafik telah banyak berbuat untuk kepentingan orang-orang Yahudi. Pemimpin munafikin, Abdullah bin Ubay mengirim utusan kepada Yahudi untuk menyampaikan pesan "Muhammad hendak rnendatangi kalian, maka bersiap-siagalah dan kalian tidak perlu takut terhadapnya karena jumlah dan kekuatan kalian lebih banyak. Kaum Muhammad hanya sedikit dan hanya membawa persenjataan yang minim. "

Ketika penduduk Khaibar mengetahui kabar ini, mureka mengutus Kinanah bin Abul Huqaiq dan Haudzah bin Qais ke Ghathafan untuk meminta bantuan kepada mereka, sebab Ghathafan merupakan sekutu Yahudi dan sepakat untuk memusuhi orang-orang Muslim. Jika dapat mengalahkan orang-orang Muslim Ghathafan syarat untuk diberi separoh hasil korma Khaibar.

Minggu, 06 Februari 2011

Menanti Calon Khilafah Islam Berikutnya!

ISYARAT NABI SAW, AKAN ADANYA 12 KHALIFAH (PEMIMPIN) DARI QURAISY YANG AKAN MEMERINTAH KAUM MUSLIMIN HINGGA KIAMAT TIBA



Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Jabir bin Samurah, sabda Nabi SAW, “Akan ada dua belas khalifah, semuanya dari Quraisy”


“Agama Islam akan terus berlanjut sampai waktu hari kiamat, atau kamu telah dipimpin secara penuh oleh 12 khalifah, mereka semua berasal dari bani Quraish (Arab)”.

Dalam sabda lain beliau SAW juga berkata: “Sebuah pasukan kecil dari Muslim akan menguasai istana putih, penegak hukum dari kerajaan Persia atau para keturunannya”.

Riwayat Shahih Muslim juga memaparkan: Dari Abdullah bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Khalifah akan tetap ada di antara bani Quraisy sekalipun apabila tinggal 2 orang saja yang tersisa di bumi.” Subhanallah…

Dan yang dimaksud 12 khalifah Quraisy, bukanlah para khalifah yang mememrintah secara berturut-turut sepeninggal Rasulullah SAW, sampai pertengahan Daulah Bani Umayyah. Karena hadist riwayat Safinah yang berbunyi, “ Khalifah sepeninggalku adalah selama tiga puluh tahun,” tidak sesuai dengan panjangnya masa kekuasaan mereka.

Namun demikian, di antara pemimpin yang 12 itu, kita dapatkan Abu Bakar, kemudian Umar, Utsman, Ali serta putranya, Al-Hasan bin Ali. Termasuk juga Umar bin Abul Aziz, sebagaimana yang diyakini oleh sebagian besar ulama terkemuka dan kebanyakan umat ini.

Dan adapula di antaranya dari kalangan Bani Abbas. Sedang sisanya akan bermunculan di masa mendatang, sampai munculnya seorang di antara mereka yang dikenal sebagai Imam Al-Mahdi , yaitu tokoh yang diberitakan dalam berbagai hadist.

Inilah Kisah yang Sebenarnya Tentang Syahidnya Hamzah RA

Imam Bukhari menukilkan dari Ja’far bin Amar bin Umaiyyah ad Dhamri dia berkata, “Saya telah berangkat untuk satu perjalanan dengan Ubaidullah bin Adiy bin al Khiyar. Bila kami sampai di Hims, Ubaidullah bin Adi bertanya kepada saya, “Mahukah engkau berjumpa dengan Wahsyi? Boleh kita tanya kepadanya tentang pembunuhan Sayyidina Hamzah”. Saya berkata, “Tentu sekali”.

Pada hari-hari itu Wahsyi menetap di Hims. Kami bertanya seseorang, “Di mana rumah Wahsyi?”. Orang itu menceritakan, “Itu dia Wahsyi sedang duduk di bawah naungan (bayang) rumahnya. Bila kami ternampak dia dalam rupanya yang gemuk dan tidak berambut itu tak ubah seperti sebuah gereba. Kami berdiri sejenak setelah sampai di hadapannya lalu kami memberi salam kepadanya. Beliau menjawab salam kami. Perawi berkata, “Ketika itu Ubaidullah bin Adi bin al Khiyar menutup muka dan kepalanya dengan serban. Wahsyi tidak nampak apa-apa darinya melainkan dua mata dan kakinya sahaja.

Ubaidullah pun bertanya Wahsyi, “Kamu kenalkah siapa saya?”. Wahsyi mengangkat pandangannya ke arah Ubaiullah, kemudian dia berkata, “Demi Allah, Tidak! Ya, Cuma saya tahu bahawa Adi bin Al Khiyar telah berkahwin dengan seorang perempuan dipanggil Ummul Qital binti Abi al-‘Is. Dengannya Adi bin Al Khiyar telah mendapat seorang anak lelaki. Sayalah yang telah mencari seorang pengasuh untuk anaknya itu dan saya dengan ibunya membawakan anak itu untuk diserahkan kepada pengasuh tersebut. Sekarang saya sedang memerhatikan kaki awak. Saya rasa engkaulah anak itu”. Ubaidullah pun mengalihkan kain dari mukanya. Dia bertanya Wahsyi, “Bolehkah kamu ceritakan kepada kami tentang pembunuhan Hamzah?”. Wahsyi menjawab, “Ya, tentu boleh. Ceritanya begini : Hamzah telah membunuh Thu’aimah bin Adi bin Al Khiyar dalam peperangan Badar. Tuan saya Jubair Bin Mut’im berkata kepada saya, “Kalau engkau dapat membunuh Hamzah, engkau merdeka”.

Bila saya keluar untuk berperang pada tahun ‘Ainain’ (Ainain ialah salah satu bukit di Uhud, di hadapannya terletak Wadi Uhud), saya juga keluar bersama orang lain untuk berperang. Bila masing-masing pasukan telah membetulkan saf, maka Siba’ bin Abdul Uzza pun tampil kehadapan seraya berkata, “Adakah sesiapa yang akan berlawan?”. Wahsyi menceritakan, “Dari kalangan pihak lawan, Hamzah bin Abdul Muthalib tampil dihadapan mereka seraya berkata, “Wahai Siba’!Wahai anak Ummu Anmar! Mudim anak-anak perempuan, adakah engkau memerangi Allah dan Rasulnya?”. 
Kemudian dengan pantas Hamzah menyerang lalu dia (Siba’) dia berlalu (terus mati). Wahsyi berkata, “Saya ketika itu bersembunyi di sebalik satu batu besar sambil mengintai-intai Hamzah. Bila dia berlalu di dekat saya, terus saya melempar lembing saya ke arahnya. Lembing itu mengenai bahagian pusatnya hingga menembus belakangnya. Itulah pertemuan saya yang terakhir dengannya. Bila semua orang pulang dari medan perang, saya juga pulang bersama mereka dan terus menetap di Mekah (selepas merdeka) sehingga Islam tersebar di sana, kemudian saya pun keluar ke ta’if”.

Bila orang Ta’if menghantarkan utusan-utusan kepada Rasulullah s.a.w. maka ada orang berkata kepada saya, “Nabi tidak mengganggu utusan,” kerana itu saya pun menyertai golongan utusan itu untuk mengadap Nabi s.a.w. Bila Nabi saw melihat saya, Baginda pun bertanya, “Adakah engkau Wahsyi?”. Saya menjawab, “Ya”. Baginda saw bertanya lagi, “Engkaukah yang telah membunuh Hamzah?”. Saya menjawab, “Berita yang sampai kepada tuan itu adalah benar”. Nabi saw pun bersabda, “Bolehkah engkau sembunyikan mukamu dari pandanganku?”. Wahsyi berkata, “Aku pun pergi dari situ”.

Selepas kewafatan Rasulullah s.a.w. Musailamah al Kazzab memberontak. Saya berfikir dalam hati saya bahawa seharusnya saya keluar untuk menentang Musailamah. Boleh jadi saya akan dapat membunuhnya dengan itu terbalaslah (terbayarlah) pembunuhan Hamzah oleh saya. Setelah terfikir begitu saya pun keluar bersama orang ramai untuk berperang. Tiba-tiba (dalam peperangan) saya ternampak seorang sedang berdiri di celah tembok. Dia kelihatan seperti unta yang kehitaman warnanya. Rambutnya berselerak. Saya lepaskan lembing saya ke arahnya dan tepat mengenai dadanya sehingga menembusi belakangnya. Selepas itu tampil seorang Ansar Madinah lalu menetak kepalanya. Abdullah Bin al-FAdhl menceritakan bahawa Sulaiman bin Yasr menceritakan kepada saya bahawa beliau mendengar Ibnu Umar berkata, “Seorang perempuan yang ketika itu berdiri di atas bumbung rumah lantas berteriak mengatakan, “Demi Amirul Mukminin (Musailamah al Kazzab)! Dia telah dibunuh oleh budak Habsyi. ( Lihat Sahih Bukhari jilid 2 m.s. 583)

Demikianlah kedudukan sebenar kisah ini mengikut cerita dari mulut pembunuh Sayyidina Hamzah sendiri. Dari riwayat ini dapat disimpulkan beberapa perkara seperti berikut ;
  • Wahsyi adalah hamba atau budak dari  Jubair bin Muth’im. Jubair bin Muth’inilah yang mendorongnya membunuh Hamzah dengan janji akan memerdekakannya. Di dalam riwayat ini tidak ada isyarat pun tentang campurtangan Hindun dalam pembunuhan Hamzah. Bukan Hindun yang mendorong Wahsyi supaya membunuh Hamzah, bukan juga Hindun yang dapat memerdekakan Wahsyi kerana Wahsyi bukan hambanya, malah dalam riwayat Ibnu Ishaq sendiri pun Wahsyi adalah hamba Jubair bin Muth’im.
  • Di dalam riwayat ini juga tidak tersebut Hindun memberikan gelang kaki, kalung dan subangnya kepada Wahsyi kerana kejayaannya membunuh Hamzah. Bahkan Wahsyi tidak mendapat apa-apa hadiah dari sesiapa pun selain dari hadiah kemerdekaan yang dijanjikan tuannya Jubair bin Muth’im. Sekiranya ada, maka tidak ada sebab kenapa Wahsyi menyembunyikannya.

  • Wahsyi ikut serta dalam peperangan Uhud dari awal hingga akhir di pihak orang-orang kafir Quraisy dan sekali-sekali Wahsyi pulang ke rumah bersama orang-orang lain. Di dalam riwayat Bukhari ini beliau tidak menyebutkan cerita perempuan-perempuan membuat kalung dari anggota orang-orang Islam yang syahid yang telah dipotong oleh mereka. Tidak ada juga beliau menyebutkan kisah siapa memakan hati siapa. Jika diandaikan beliau tidak melihat apa yang dilakukan oleh perempuan-perempuan Quraisy terhadap orang-orang Islam yang mati syahid dalam peperangan Uhud itu terutamanya Hindun sekalipun tetap berkemungkinan juga beliau mendengar cerita itu di Mekah setelah pulang tetapi tiadanya cerita Wahsyi ini daripada perbuatan-perbuatan perempuan tersebut menunjukkan bahawa semua itu tidak benar.

  • Karena Wahsyi telah membunuh Hamzah yang begitu disayangi oleh Rasulullah saw, Nabi saw meminta beliau supaya tidak bertemu dengannya. Tetapi Jubair bin Muth’im, pada ketika pembukaan Mekah tidak pula diminta oleh Rasulullah saw supaya tidak bertemu dengannya seperti Wahsyi. Apa yang dilakukan oleh Wahsyi, jika benar seperti yang didakwa oleh Ibnu Ishaq, bahawa Hindun telah membelah perut Hamzah dan mengunyah hatinya – maka kelakuan itu lebih dasyat daripada apa yang dilakukan oleh Wahsyi terhadap Hamzah, karena sudah lumrah dalam peperangan seseorang membunuh pihak lawannya. Tetapi adalah sesuatu yang luar biasa seseorang membelah perut orang yang telah mati dalam peperangan lalu memotong hatinya untuk dikunyah atau dimakan. Sepatutnya Rasulullah saw juga tidak sanggup bertemu dengan Hindun sama seperti Wahsyi tetapi sebaliknya apabila Nabi saw menakluk Mekah, di samping Baginda saw mengisytiharkan damai, Baginda saw juga telah mengisytiharkan nama-nama orang yang perlu dihukum bunuh.

 
Cuplikan Film : The Message-The Story of Islam (Terbunuhnya Sayyidina Hamzah RA)

  • Pada ketika itu Hindun tidak tersenarai dalam orang-orang yang perlu dihukum bunuh. Tidak juga Nabi saw menyatakan kebencian dan dendamnya kepada Hindun malah sebaliknya mengisytiharkan kepada umum bahawa sesiapa yang masuk ke dalam rumah Abi Sufyan (juga merupakan rumah Hindun) untuk menyelamatkan dirinya, dia terselamat dan mendapat keamanan. Pengisytiharan seperti ini membuktikan dengan sejelas-jelasnya bahawa Hindun atau Abu Sufyan tidak terlibat sama sekali dalam pembunuhan Sayidina Hamzah apa lagi untuk dikatakan beliau telah membelah perut Hamzah lalu memakan hatinya. Hindun seperti juga ramai orang-orang Quraisy yang lain telah memeluk agama Islam, selepas berbai’ah dengan Nabi saw dalam keadaan bersemuka dengan Nabi s.a.w., beliau secara terbuka menyatakan perasaannya setelah memeluk Islam terhadap Nabi saw. Kata beliau, “Wahai Rasulullah! Dulu tidak ada manusia yang berkhemah di atas muka bumi ini lebih dipandang hina olehku darimu tetapi hari ini tidak ada orang yang berkhemah di muka bumi ini lebih ku kasihi darimu.

  • Lihatlah bagaimana beliau menyatakan isihatinya terhadap Nabi saw dengan bersemuka dan lihatlah pula apa jawapan Nabi saw dan bagaimana Nabi saw menyambut kata-katanya itu. Dari kata-kata Nabi saw itu kiranya sirnalah segala tuduhan yang dilemparkan oleh musuh-musuh Islam terhadap Hindun, ibu mertua Nabi saw, ibu kepada Ummu Habibah dan juga ibu kepada Sayyidina Mu’awiyah. Baginda saw lantas bersabda, “Ya, demikian juga aku. Demi Tuhan yang nyawaku berada ditanganNya” ( Lihat Sahih Bukhari jilid 1 m.s. 539)

  • Ini bermakna Nabi saw juga kasih kepada Hindun seperti mana Hindun mengasihinya. Malah untuk menyatakan kasihnya yang sungguh-sungguh itu, Baginda saw bersumpah dengan Tuhan yang nyawanya berada ditanganNya.